Ada Ada Saja, Seorang Kepala Desa Diduga Palsukan Identitas Diri Guna Menikahi Istri Muda - METRO JATIM

Breaking

Post Top Ad

Pasang Iklan Disini

Post Top Ad

Pasang Iklan Disini

Rabu, 27 Februari 2019

Ada Ada Saja, Seorang Kepala Desa Diduga Palsukan Identitas Diri Guna Menikahi Istri Muda

Kepala Desa Tarokan

Nganjuk, Metro Jatim;

Kepala Desa Tarokan, Supadi (39 Tahun) Gara - gara ingin menikah lagi dengan seorang wanita yang lebih muda, berinisial DAM (22th) warga desa Sukorejo Kecamatan Rejoso, Kabupaten Nganjuk, membuat geger karena ada dugaan pemalsuan data.

Ia diduga memalsukan data dalam akta perkawinan yang tercatat di Kantor Urusan Agama (KUA) Rejoso, No. Register, 132/III.2018 dengan dilangsungkan akad nikah pada tanggal  26 - 03 - 2018 sekitar pukul 10.00 WIB.

Supadi diketahui telah menyerahkan data diri yang tidak benar dan menggunakannya sebagai syarat nikah di KUA Rejoso, Kabupaten Nganjuk.

Supadi menggunakan tenaga orang lain yang juga sebagai Kepala Desa wilayah Kecamatan Tarokan, Kabupaten Kediri.

Setelah data lengkap, dia kemudian menikah lagi dengan seorang yang berstatus perawan warga warga Sekorejo, pada tanggal 26/03/2018.

Dalam pernikahan kedua, Supadi secara terang dan jelas mengaku masih dalam status perjaka.

Pada tahun 2002, Supadi telah menikah secara sah dengan YTR. Warga Tarokan Kabupaten Kediri

Menurut Pakar Hukum Perkawinan yang juga seorang Pengacara dan Konsultan Hukum, Asmijan, S.H., M.H. menyatakan, bahwa sesuai aturan UU No 1/1974 Tentang Perkawinan, seorang yang hendak menikah kedua dan seterusnya harus mendapatkan izin dari istri pertama.

Menurut hasil penelurusan yang didapat, dalam bentuk administrasi pernikahan berupa testimoni tak pernah mendapatkan izin tersebut oleh istri sahnya.

Informasi yang dihimpun awak media, setelah menikah DAM  tinggal di rumah orangtuanya di daerah Nganjuk. Namun, Supadi semenjak menikah justru tinggal sendiri di Desa Tarokan bersama istri yang pertama, dan hanya sesekali pada malam hari saja  ke rumah wilayah Nganjuk.

Ditambahkan oleh Asmijan, SH, MH yang menyatakan bahwa Supadi, "Diduga melakukan tindak pidana pemalsuan surat sebagaimana dalam gaya hidupnya yang bersenang senang bersama istri pertama,dan tidak merasa bersalah," katanya.

Masih ungkap Asmijan, "Dalam berkas berkas yang ditunjukkan seorang wartawan itu, Supadi bisa diduga melanggar ketentuan Pasal 263 Ayat (1) KUHP. Selain itu, Menurut Asmijan, SH, MH meminta kepada pihak Kepolisian Nganjuk untuk memproses atas dugaan pemalsuan dokumen dan dibawa ke Pengadilan kemudian atas amar putusan itulah akta pernikahan yang sudah telanjur jadi dalam pernikahan keduanya dikembalikan ke KUA Rejoso. Itu artinya, perkawinan yang dilakukan batal demi hukum," Jelasnya.

Kronologi perkawinan itu, Pemalsuan surat nikah bermula ketika Supadi mengisi formulir nikah yang tersedia di KUA. Ada beragam syarat yang harus diisi dalam formulir N1-N7. Setelah terisi, surat ditandangani dengan surat pernyataan bermaterai.

Foto berkas dugaan pemalsuan data, KTP

Saat mengkonfirmasi Kepala KUA, Rejoso membenarkan telah melangsungkan perkawinan Supadi dengan DAM, persoalan administrasi sudah lengkap. Namun disoal atas dugaan memalsukan data - data palsu di atas materai, yakni dalam surat KUA Rejoso, kami tidak melakukannya.

Penelusuran awak media di rumah Supadi yang ada di wilayah Tarokan, Supadi sudah memiliki seorang istri dan dua anak perempuan yang masih sekolah. Namun, saat menikah, masih ada status perkawinan oleh pertama. Ketika ditanya Naif (penghulu), Supadi tetap mengaku masih perjaka sesuai KTP nya.

Selain itu, ditemukan juga KTP palsu yang digunakan Supadi sebagai syarat mengurus akta perkawinan.

Untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya tersebut Supadi yang dilaporkan oleh Salah satu anggota LSM Cakra  Kediri. (Tim)

Post Top Ad

Pasang Iklan Disini